LUWU TIMUR, KITAINDONESIA.COM,— Menjelang aksi petani Luwu Timur yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 24 September 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Tani Nasional, situasi di kalangan massa aksi mulai memanas.
Koordinator Aliansi Petani, Ali Kamri, diduga mendapat tekanan melalui sejumlah sambungan telepon dari beberapa orang yang disebut-sebut berasal dari kalangan petugas. Dalam percakapan tersebut, Ali Kamri terlihat berbicara dengan nada keras melalui telepon.
Belum diketahui secara pasti siapa pihak yang melakukan panggilan tersebut maupun apa tujuan sebenarnya. Namun, informasi mengenai adanya komunikasi tersebut beredar di tengah persiapan aksi petani yang membawa sejumlah tuntutan terkait persoalan agraria dan kebijakan pertanian di Luwu Timur.
Tekanan serupa juga disebut dialami Ketua MUAK Luwu Timur, Amrullah. Ia mengaku menerima beberapa telepon yang meminta agar rencana aksi pada 24 September dibatalkan.

Tidak hanya itu, muncul pula isu yang menyebut bahwa aksi petani tersebut merupakan gerakan kelompok oposisi terhadap pemerintah daerah.
Tudingan tersebut langsung dibantah Amrullah.
Kami ini kontrol sosial. Kalau berbicara oposisi, oposisi itu ada di DPRD,tegas Amrullah.
Menurutnya, aksi yang dilakukan masyarakat merupakan bagian dari penyampaian aspirasi dan fungsi kontrol sosial terhadap kebijakan pemerintah, khususnya menyangkut persoalan petani dan agraria.
Sementara itu, hingga malam ini, Rabu, 23 September 2026, konsolidasi terus dilakukan. Sejumlah elemen yang tergabung dalam gerakan petani dan masyarakat melakukan rapat koordinasi di Sekretariat MUAK Luwu Timur.
Rapat tersebut difokuskan pada pemantapan teknis dan konsolidasi massa menjelang aksi 24 September.
Di tengah munculnya dugaan tekanan dan isu bahwa aksi tersebut bermuatan politik, para peserta rapat justru menegaskan bahwa agenda utama mereka adalah menyampaikan aspirasi masyarakat, khususnya terkait persoalan agraria dan nasib petani di Luwu Timur.
Pertanyaan kini bukan hanya mengenai tuntutan apa yang akan dibawa dalam aksi Hari Tani Nasional. Tetapi juga, siapa yang berada di balik telepon yang meminta aksi dibatalkan, dan mengapa suara petani dianggap harus dihentikan sebelum mereka menyampaikan aspirasinya?
Identitas pihak yang disebut melakukan komunikasi tersebut masih perlu diklarifikasi dan dikonfirmasi kepada pihak terkait.(*)







