Tak cukup rapat, tak cukup bicara, tak cukup janji! Menteri Pertanian pertaruhkan jabatan, mendesak dugaan mafia pangan benar-benar ditindaklanjuti.
KITA INDONESIA. COM, — Nada kecewa dan ketegasan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mewarnai pembahasan persoalan pangan dalam forum bersama Menteri Dalam Negeri. Amran mempertanyakan efektivitas penanganan dugaan mafia pangan yang dinilainya belum menyentuh akar persoalan.
Bagi Amran, persoalan ini bukan sekadar urusan harga ayam dan telur. Ada peternak yang menanggung kerugian, ada konsumen yang terbebani harga tinggi, dan ada dugaan permainan di tingkat pasar yang tidak boleh dibiarkan berlarut-larut.
Dengan nada emosional, ia menyampaikan bahwa penanganan persoalan tersebut akan sia-sia jika dugaan jaringan mafia masih bercokol dan tidak ditindak secara nyata.
“Pak Mendagri, ini percuma kita bahas selama mafianya masih ada di dalam, enggak ada guna,” demikian bunyi transkrip pernyataannya.
Kalimat itu bukan sekadar kritik terhadap jalannya rapat. Itu merupakan pertanyaan keras tentang keseriusan negara: kalau persoalannya sudah diketahui, mengapa penyelesaiannya belum juga memberikan hasil yang dirasakan masyarakat?
Pertaruhkan jabatan, bukan sekadar bicara
Amran juga menyatakan kesediaannya mempertaruhkan jabatan demi penanganan persoalan tersebut. Ia mengungkapkan kekecewaannya karena dugaan permainan harga terus menjadi masalah, meskipun upaya penindakan telah dilakukan.
“Saya pertaruhkan jabatan saya. Kalau ditangkap, biar saya ambil risikonya,” demikian petikan pernyataan dalam transkrip.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa Amran menghendaki langkah yang lebih tegas. Namun, keberanian menyampaikan pernyataan di ruang rapat harus diikuti keberanian mengambil tindakan sesuai kewenangan dan hukum yang berlaku.
Sebab, masyarakat tidak hanya membutuhkan pejabat yang berani berbicara. Masyarakat menunggu hasil konkret: penyelidikan yang transparan, bukti yang dibuka sesuai ketentuan hukum, dan penindakan terhadap siapa pun yang terbukti melanggar.
Jangan sampai peternak terus menangis, pelaku justru tetap nyaman
Di balik persoalan harga, ada nasib peternak yang harus menanggung biaya pakan, operasional, dan risiko produksi. Ketika harga jual jatuh, mereka terancam merugi. Sementara itu, konsumen tetap menghadapi harga pangan yang tinggi.
Situasi seperti ini tidak boleh terus dibiarkan tanpa penjelasan yang terang. Jika benar terdapat praktik kartel, manipulasi harga, atau pelanggaran persaingan usaha, aparat harus membuktikannya dan menindak sesuai hukum.
Jangan sampai yang kecil menanggung kerugian, sementara dugaan pelanggaran oleh pihak yang lebih kuat hanya berakhir menjadi bahan pembicaraan di ruang rapat.
Amran telah menyampaikan kekecewaannya dan menunjukkan sikap tegas. Kini, perhatian publik tertuju pada tindak lanjut pemerintah dan aparat penegak hukum.
Apakah pernyataan itu akan menjadi titik awal pembongkaran persoalan hingga ke akar-akarnya, atau kembali berakhir sebagai pernyataan keras yang perlahan dilupakan?
Jawabannya bukan pada kerasnya suara pejabat, melainkan pada tindakan nyata, keterbukaan proses, dan hasil penegakan hukum.
Sebab, memberantas mafia pangan tidak cukup dengan mengucapkan kata “tangkap”. Harus ada penyelidikan yang serius, pembuktian yang kuat, dan keberanian menindak siapa pun yang terbukti bersalah.(*)









