Tambang Terus Bergerak, Inflasi Luwu Timur Ikut Merangkak Naik.

Luwu Timur, kitaindonesia.Com Di tengah ramainya aktivitas industri dan pertambangan di Luwu Timur, masyarakat mulai menghadapi tekanan ekonomi yang semakin terasa. Harga kebutuhan pokok terus naik, sementara sebagian warga pesisir kini mengaku penghasilannya justru terus menurun.

Data inflasi tahunan atau year-on-year (y-on-y) di Luwu Timur pada awal 2026 menunjukkan kenaikan yang cukup signifikan. Pada Januari 2026, inflasi tercatat sebesar 4,30 persen. Angka itu kemudian meningkat menjadi sekitar 5,86 persen pada Februari 2026.

Kenaikan tersebut mulai berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat, terutama pada kebutuhan pangan dan biaya hidup harian.
Di pasar tradisional, keluhan warga mulai sama. Harga ikan naik, cabai naik, beras ikut naik. Uang belanja yang dulu masih cukup untuk beberapa hari, kini cepat habis dalam waktu singkat.

“Sekarang uang seratus ribu cepat sekali habis,” keluh seorang ibu rumah tangga pasar Malili.

Kondisi itu terasa kontras dengan geliat industri yang terus bergerak. Truk hauling melintas hampir setiap hari, kapal pengangkut ore semakin ramai di wilayah pesisir, sementara aktivitas logistik tambang terus meningkat.
Namun di balik itu, masyarakat kecil mulai merasakan dampak yang berbeda.

Di kawasan pesisir, nelayan mengaku hasil tangkapan tidak lagi sebanyak dulu. Sementara petani tambak dan petani rumput laut mulai menghadapi kerugian akibat kondisi air yang disebut semakin berubah.

Warga mengeluhkan air sungai yang kerap keruh bercampur lumpur hingga mengalir ke wilayah muara dan pesisir. Kondisi itu dikhawatirkan mempengaruhi kualitas air tambak dan pertumbuhan rumput laut.

“Kadang air berubah warna, tambak juga mulai terganggu,” ujar seorang petani tambak di Desa Atur kecamatan Malili.

Petani rumput laut juga mengaku produksi mereka terus menurun dalam beberapa waktu terakhir. Sebagian bahkan mengalami gagal panen akibat kualitas air yang dianggap tidak lagi stabil seperti dulu.

Sementara itu, inflasi yang terus merangkak naik ikut memperbesar tekanan terhadap masyarakat. Harga beras, ikan, minyak goreng hingga kebutuhan dapur lainnya terus bergerak naik dari bulan ke bulan.

OKenaikan harga itu menambah tekanan terhadap daya beli warga, terutama masyarakat pesisir, pekerja harian, nelayan, hingga keluarga berpenghasilan rendah.

Biaya produksi ikut naik. Ongkos transportasi bertambah, sementara hasil usaha masyarakat pesisir justru semakin tidak menentu.

Perubahan sosial juga semakin terlihat di tengah masyarakat.
Banyak warga yang dulu hidup dari pertanian, tambak, dan laut kini mulai beralih menjadi pekerja atau buruh perusahaan. Perlahan, sektor pangan dan penghidupan tradisional masyarakat ikut melemah.

Akibatnya, ketergantungan terhadap pasokan pangan dari luar daerah semakin besar. Ketika harga dari luar naik atau distribusi terganggu, masyarakat Luwu Timur langsung ikut merasakan dampaknya.

Ironinya, kondisi itu terjadi di daerah yang dikenal kaya sumber daya alam dan terus dipadati aktivitas industri.

“Tambangnya ramai, tapi masyarakat kecil makin susah,” celetuk Memet, warga di perumahan nelayan, tadi pagi 24 Mei 2026.

Kalimat itu kini semakin sering terdengar di tengah masyarakat. Sebab di balik pertumbuhan investasi dan ramainya aktivitas tambang, sebagian warga justru mulai menghadapi naiknya biaya hidup, menurunnya hasil penghidupan, serta tekanan lingkungan yang semakin terasa.(*)

banner 400x130

Pos terkait

banner 400x130