Luwu Timur, kitaindonesia.Com — Program pengadaan ambulans untuk 24 desa pemberdayaan yang didanai Corporate Social Responsibility (CSR) PT Vale Indonesia senilai Rp6,8 miliar menjadi sorotan publik. Hingga Mei 2026, unit ambulans yang dijanjikan belum terlihat di desa-desa penerima manfaat.
Berdasarkan informasi yang beredar, proyek ini dilaksanakan oleh pihak ketiga, yakni PT Malili Suplai Utama, yang disebut telah menerima dana, termasuk uang muka. Namun, realisasi pengadaan di lapangan belum tampak.
Perhatian publik meningkat setelah muncul laporan bahwa pihak vendor sulit dihubungi. Kondisi ini memicu kekhawatiran terkait kelanjutan proyek, meskipun hingga kini belum ada penjelasan resmi mengenai penyebab keterlambatan tersebut.
Masyarakat mulai mempertanyakan alur penggunaan dana, mulai dari waktu pencairan, mekanisme penyaluran, hingga sistem pengawasan yang diterapkan. Ketiadaan informasi terbuka membuat berbagai pertanyaan terus mengemuka.
Sorotan juga mengarah pada profil perusahaan pelaksana. Hingga saat ini, informasi mengenai struktur manajemen dan kepemilikan PT Malili Suplai Utama belum banyak tersedia di ruang publik.
Di tengah situasi tersebut, beredar informasi yang mengaitkan kepemilikan perusahaan dengan Erwin Sandi, yang dikenal sangat dekat dengan Bupati. Namun demikian, belum terdapat dokumen atau keterangan resmi yang dapat mengonfirmasi keterkaitan tersebut.
Masyarakat juga mempertanyakan apakah proses pengadaan telah dilakukan secara terbuka dan akuntabel, serta kapan ambulans akan direalisasikan dan didistribusikan ke 24 desa.
Di tengah polemik, muncul desakan agar aparat penegak hukum melakukan audit dan penyelidikan terhadap penggunaan dana CSR, termasuk proses pengadaan dan penunjukan pihak ketiga, dan keterlibatan peran pengawasan oleh lembaga Kejaksaan Negeri Luwu Timur.
Hingga berita ini disusun, upaya konfirmasi kepada pihak terkait disebut masih dilakukan, namun belum ada pernyataan resmi yang menjelaskan perkembangan proyek tersebut.
Situasi ini menyisakan pertanyaan publik yang belum terjawab: jika dana telah dialokasikan, kapan ambulans benar-benar hadir untuk masyarakat desa?(*)











