IPM Luwu Timur Tertinggi di Sulsel, Namun Kritik terhadap Kerusakan Lingkungan dan Ketergantungan Tambang Menguat.

Luwu Timur, kitaindonesia. Com – Kabupaten Luwu Timur mencatat capaian membanggakan dalam pembangunan manusia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Luwu Timur tahun 2025 mencapai 77,28, naik dari 76,44 pada tahun sebelumnya.

Keberhasilan itu menjadikan Luwu Timur sebagai kabupaten dengan IPM tertinggi di Sulawesi Selatan dan berada di posisi keempat secara keseluruhan setelah tiga kota besar di provinsi itu.

Peningkatan IPM terjadi pada sektor pendidikan, kesehatan, dan standar hidup masyarakat. Kemajuan ini dinilai tidak terlepas dari besarnya kontribusi sektor pertambangan nikel yang selama bertahun-tahun menjadi penggerak utama ekonomi daerah, termasuk aktivitas PT Vale Indonesia di kawasan Sorowako.

Tetapi di balik capaian tersebut, kritik terhadap arah pembangunan pemerintah daerah mulai menguat. Pemerintah dinilai terlalu fokus dan bergantung pada sektor pertambangan tanpa diimbangi perhatian serius terhadap persoalan lingkungan hidup.

Salah satu sorotan datang dari kondisi Sungai Malili, warga masih selalu melihat Sungai Malili berubah keruh kecoklatan dan bercampur lumpur. Warga beberapa kali mengeluhkan kondisi sungai yang dinilai semakin memprihatinkan, namun belum melihat adanya langkah penanganan maupun penjelasan terbuka dari pemerintah daerah terkait penyebab dan dampak lingkungan yang terjadi.

Padahal, Sungai Malili selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat, nelayan, serta penopang ekosistem di wilayah pesisir. Kondisi air yang terus dikeluhkan masyarakat memunculkan kekhawatiran terhadap dampak aktivitas pembukaan lahan dan pertambangan di kawasan hulu.

Selain Sungai Malili, kondisi Danau Matano juga menjadi perhatian publik. Danau purba yang dikenal sebagai salah satu danau terdalam di Asia Tenggara itu kini menghadapi tekanan akibat semakin banyaknya bangunan warga yang berdiri di atas permukaan air danau.

Keberadaan bangunan tersebut dinilai merusak estetika kawasan wisata Danau Matano sekaligus berpotensi meningkatkan pencemaran akibat limbah domestik yang langsung mengarah ke perairan danau.

Berbagai pihak menilai pemerintah daerah belum menunjukkan ketegasan dalam penataan kawasan dan perlindungan lingkungan hidup.

Di tengah tingginya angka IPM dan pertumbuhan ekonomi, persoalan kerusakan lingkungan dinilai justru mulai menjadi ancaman jangka panjang bagi masyarakat.

Ketergantungan ekonomi terhadap sektor nikel juga dianggap berisiko tinggi. Fluktuasi harga komoditas global maupun potensi penurunan permintaan pasar dunia dapat berdampak langsung terhadap stabilitas ekonomi daerah apabila tidak dibarengi diversifikasi sektor lain.

Pemerintah Kabupaten Luwu Timur di bawah kepemimpinan Irwan Bachri Syam didorong untuk tidak hanya menjadikan capaian IPM sebagai kebanggaan statistik, tetapi juga momentum evaluasi terhadap arah pembangunan daerah ke depan.(*)

 

banner 400x130

Pos terkait

banner 400x130