Oleh: Muh Rafii, SE / Direktur Badan Kajian Pengawasan Kebijakan Pembangunan DPP AMJI RI
Di tengah derasnya arus informasi, data statistik sering kali dijadikan dasar untuk membangun narasi keberhasilan maupun kegagalan pembangunan. Sayangnya, tidak sedikit data yang dibaca secara parsial sehingga melahirkan kesimpulan yang kurang utuh. Padahal, setiap indikator ekonomi memiliki ruang lingkup dan makna yang berbeda.
Kabupaten Luwu Timur merupakan contoh menarik bagaimana dua data resmi dapat menghasilkan persepsi yang berbeda apabila tidak dipahami secara komprehensif.
Berdasarkan publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Luwu Timur mengenai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Menurut Lapangan Usaha Tahun 2021–2025, sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan menunjukkan tren pertumbuhan yang membaik. Setelah mengalami kontraksi -1,65 persen pada 2022, sektor ini tumbuh 1,19 persen pada 2023, meningkat menjadi 3,25 persen pada 2024, dan mencapai 5,53 persen pada 2025.
Secara statistik, data tersebut menunjukkan bahwa sektor pertanian berhasil keluar dari fase kontraksi dan kembali berada pada jalur pertumbuhan positif. Kondisi ini tentu menjadi sinyal yang baik mengingat sektor pertanian masih menjadi salah satu penyangga aktivitas ekonomi masyarakat, terutama di wilayah pedesaan.

Namun, ketika melihat indikator ekonomi secara keseluruhan, gambaran yang muncul justru berbeda.
Berdasarkan rilis BPS Provinsi Sulawesi Selatan, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Luwu Timur pada Triwulan I Tahun 2026 (year-on-year) tercatat -2,31 persen. Angka tersebut menjadikan Luwu Timur sebagai satu-satunya kabupaten/kota di Sulawesi Selatan yang mengalami kontraksi ekonomi pada periode tersebut. Sebagai pembanding, ekonomi Sulawesi Selatan tumbuh 6,88 persen, sedangkan ekonomi nasional tumbuh 5,01 persen.
Pertanyaannya adalah, apakah kedua data tersebut saling bertentangan? Jawabannya adalah tidak. Kedua indikator tersebut mengukur objek yang berbeda.
Pertumbuhan 5,53 persen hanya menggambarkan kinerja satu lapangan usaha, yakni sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan. Sementara angka -2,31 persen merupakan pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) secara keseluruhan, yang merupakan akumulasi seluruh aktivitas ekonomi di Kabupaten Luwu Timur.
Dengan demikian, pertumbuhan sektor pertanian tidak otomatis mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah apabila sektor-sektor lain yang memiliki kontribusi lebih besar terhadap PDRB mengalami perlambatan.
Dalam membaca data ekonomi Luwu Timur, struktur PDRB tidak dapat diabaikan.
Selama ini, perekonomian Luwu Timur ditopang oleh beberapa sektor utama, terutama pertambangan dan penggalian, industri pengolahan, serta pertanian, kehutanan, dan perikanan. Ketiga sektor tersebut menjadi motor utama pembentukan nilai tambah ekonomi daerah.
Karena itu, perlambatan pada sektor yang memiliki kontribusi besar dapat memberikan dampak yang jauh lebih signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dibandingkan peningkatan yang terjadi pada sektor lainnya. Inilah yang menjelaskan mengapa pertumbuhan sektor pertanian tetap dapat meningkat, sementara pertumbuhan ekonomi daerah secara keseluruhan justru mengalami kontraksi.
Pertumbuhan Belum Tentu Bermakna Kesejahteraan

Hal lain yang perlu dipahami adalah bahwa pertumbuhan ekonomi bukan satu-satunya indikator keberhasilan pembangunan. Pertumbuhan sektor pertanian sebesar 5,53 persen tentu merupakan perkembangan positif.
Namun, data tersebut belum otomatis menjelaskan apakah, pendapatan petani meningkat; produktivitas lahan mengalami kenaikan; kesempatan kerja bertambah;
nilai tambah hasil pertanian meningkat; atau kesejahteraan masyarakat benar-benar membaik.
Demikian pula, kontraksi ekonomi sebesar -2,31 persen tidak serta-merta menunjukkan kegagalan pemerintah daerah. Pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi pasar global, fluktuasi harga komoditas, investasi, produksi sektor unggulan, hingga dinamika industri.
Karena itu, membaca data ekonomi memerlukan kehati-hatian agar tidak terjebak pada kesimpulan yang terlalu sederhana.
Data yang tersedia justru menunjukkan bahwa tantangan pembangunan Luwu Timur ke depan bukan hanya menjaga pertumbuhan sektor pertanian tetap positif. Tantangan yang lebih besar adalah memperkuat struktur ekonomi daerah agar tidak terlalu bergantung pada sektor tertentu. Diversifikasi ekonomi menjadi penting agar gejolak pada satu sektor tidak langsung memengaruhi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Di sisi lain, pemerintah daerah juga perlu menyampaikan penjelasan yang komprehensif kepada masyarakat mengenai faktor-faktor yang menyebabkan kontraksi ekonomi pada Triwulan I Tahun 2026. Transparansi semacam ini penting agar evaluasi publik didasarkan pada data dan analisis, bukan sekadar persepsi.
Data Harus Dibaca Secara Utuh
Perdebatan mengenai keberhasilan pembangunan sering kali muncul karena masing-masing pihak menggunakan data yang berbeda. Padahal, kedua data yang dibahas dalam tulisan ini sama-sama benar karena berasal dari indikator yang berbeda.
Menampilkan pertumbuhan sektor pertanian tanpa menjelaskan kondisi ekonomi daerah secara keseluruhan dapat membangun persepsi yang tidak lengkap. Sebaliknya, hanya menyoroti kontraksi ekonomi tanpa mengakui adanya pemulihan pada sektor pertanian juga tidak memberikan gambaran yang utuh.
Pembangunan yang baik harus dinilai melalui serangkaian indikator, mulai dari pertumbuhan ekonomi, struktur PDRB, investasi, produktivitas, tingkat kemiskinan, pengangguran, Indeks Pembangunan Manusia (IPM), hingga kesejahteraan masyarakat.
Dua data resmi BPS tersebut tidak saling bertentangan. Justru keduanya menunjukkan bahwa perekonomian Luwu Timur sedang menghadapi dinamika yang kompleks.
Di satu sisi, sektor pertanian menunjukkan tren pemulihan yang positif. Di sisi lain, kontraksi ekonomi pada awal 2026 menjadi sinyal bahwa masih terdapat tantangan pada sektor-sektor lain yang berkontribusi besar terhadap perekonomian daerah.
Ke depan, keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari pertumbuhan satu sektor, melainkan dari kemampuan pemerintah daerah membangun ekonomi yang lebih tangguh, berdaya saing, dan mampu menciptakan kesejahteraan yang dirasakan secara luas oleh masyarakat.
Catatan Redaksi KITA Indonesia
Analisis ini disusun berdasarkan publikasi resmi Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Luwu Timur mengenai Produk Domestik Regional Bruto Menurut Lapangan Usaha Tahun 2021–2025 serta rilis BPS Provinsi Sulawesi Selatan mengenai pertumbuhan ekonomi Triwulan I Tahun 2026. Tulisan ini merupakan analisis kebijakan yang bertujuan mendorong pembacaan data secara komprehensif dan tidak dimaksudkan sebagai dukungan maupun penolakan terhadap pihak tertentu.







