Opini Publik: Islamic Center Malili, Aset Berharga yang Butuh Transparansi

Malili Luwu Timur _ Pembangunan Islamic Center Muhammad Siddiq Bakri merupakan proyek yang telah lama dinanti masyarakat Luwu Timur sebagai ikon religi dan kebanggaan daerah.Digagas sejak era Bupati Budiman Hakim, proyek multi-years ini direncanakan dengan total anggaran sekitar Rp65 miliar, yang terdiri dari tahap pertama Rp5 miliar, tahap kedua Rp15 miliar, tahap ketiga Rp20 miliar, serta anggaran lanjutan tahun 2025 sekitar Rp25–26 miliar. Ganti rugi lahan sudah dibayarkan sejak 2022 melalui musyawarah berdasarkan NJOP.

Namun hingga Maret 2026, kelanjutan pembangunan fisik masih tertunda dan belum menunjukkan progres signifikan. Proyek sempat mencapai lebih dari 80 persen pada akhir 2024 untuk tahap sebelumnya, tetapi penundaan lanjutan ini menimbulkan berbagai pertanyaan di kalangan masyarakat.

Salah satu isu yang paling mengemuka adalah tuntutan transparansi pergeseran anggaran oleh Bupati Irwan Bachri Syam. Banyak warga yang ingin mengetahui secara jelas bagaimana realisasi dan pergeseran dana lanjutan tersebut, agar tidak ada kesan kurang akuntabel dalam pengelolaan uang rakyat. Tuntutan audit menyeluruh terhadap anggaran proyek juga semakin kuat, sebagai bentuk pengawasan publik yang wajar atas proyek strategis sebesar ini.

Masyarakat Luwu Timur tentu memahami bahwa pembangunan besar seperti Islamic Center memerlukan perencanaan yang matang, termasuk perbaikan desain dan kualitas pekerjaan agar hasil akhir layak menjadi tempat ibadah yang nyaman dan membanggakan. Di sisi lain, penundaan yang berkepanjangan juga menimbulkan kekhawatiran bahwa proyek ini akan kehilangan momentum dan manfaatnya bagi umat.
Sebagai opini publik, kami melihat ada dua sisi yang perlu diseimbangkan:

Konsistensi dan akuntabilitas dari pemerintah daerah dalam mengelola anggaran serta menjelaskan secara terbuka setiap pergeseran dana.

Dukungan masyarakat agar proyek ini segera dapat diselesaikan dengan kualitas terbaik, bukan sekadar menjadi wacana politik sesaat.

Islamic Center Malili bukan hanya bangunan fisik, melainkan aset religi yang diharapkan dapat menjadi pusat kegiatan ibadah dan kegiatan sosial keagamaan bagi masyarakat Lutim. Transparansi pergeseran anggaran bukanlah tuduhan, melainkan kebutuhan dasar agar kepercayaan publik tetap terjaga.

Kami berharap Pemerintah Kabupaten Luwu Timur segera memberikan penjelasan resmi, baik melalui audit independen maupun rapat terbuka, sehingga masyarakat dapat memahami secara utuh realisasi anggaran dan rencana penyelesaian proyek. Dengan demikian, Islamic Center Malili dapat segera terealisasi sebagai fasilitas ibadah yang bermanfaat, sesuai harapan bersama.

Opini ini mencerminkan aspirasi sebagian masyarakat Luwu Timur yang menginginkan pembangunan berkualitas, transparan, dan berorientasi pada kepentingan umat. Mari kawal bersama agar proyek ini tidak mandek, melainkan menjadi kebanggaan daerah yang nyata.(*)

Tulisan ini merupakan opini publik yang disampaikan secara anonim sebagai bentuk aspirasi masyarakat terhadap pentingnya transparansi dan akuntabilitas pembangunan daerah.

banner 400x130

Pos terkait

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *