LUWU TIMUR, KITA INDONESIA.COM,— Pembangunan infrastruktur di Kabupaten Luwu Timur kembali mendapat perhatian masyarakat. Proyek pembangunan bundaran/jalan lingkar Ussu yang disebut menelan anggaran lebih dari Rp5 miliar menjadi sorotan warga lantaran dinilai belum menjawab persoalan utama yang selama ini dihadapi pengguna jalan.

Pasalnya, di tengah pembangunan kawasan lingkar tersebut, kondisi Jalan Poros Atue–Ussu menuju ibu kota Kabupaten Luwu Timur, Malili, masih dikeluhkan masyarakat. Ruas jalan yang menjadi akses utama warga tersebut disebut semakin memprihatinkan dengan kondisi badan jalan yang sempit, bahu jalan minim, serta sejumlah titik mengalami kerusakan dan berlubang.

Warga mempertanyakan manfaat pembangunan tersebut bagi masyarakat, mengingat kebutuhan mendesak yang mereka rasakan sehari-hari adalah akses jalan yang aman dan layak dilalui.
“Yang kami pertanyakan, pembangunan ini sebenarnya manfaatnya langsung dirasakan masyarakat atau tidak? Karena yang menjadi keluhan utama adalah jalan dari Atue sampai Ussu yang sempit dan rusak,” ungkap salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Menurutnya, anggaran lebih dari Rp5 miliar tersebut seharusnya dapat diarahkan untuk pekerjaan yang lebih menyentuh kebutuhan pengguna jalan, seperti pelebaran bahu jalan, perbaikan titik rawan, maupun peningkatan keselamatan jalur.
“Kalau anggaran itu digunakan untuk memperbaiki bahu jalan atau memperlebar ruas yang sempit, tentu dampaknya bisa dirasakan masyarakat yang setiap hari melewati jalur ini,” katanya.

Kondisi jalan yang semakin memburuk juga disebut telah menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan pengguna jalan. Warga mengaku sejumlah kecelakaan pernah terjadi di jalur tersebut, bahkan terdapat korban yang meninggal dunia.

“Ini bukan hanya soal kenyamanan, tetapi soal keselamatan. Jalan sempit, pinggir aspal banyak yang berlubang, kendaraan harus ekstra hati-hati ketika berpapasan,” ujar warga.
Masyarakat juga meminta pemerintah menjelaskan alasan pembangunan jalan lingkar tersebut menjadi prioritas, sementara jalan utama yang menjadi kebutuhan harian warga masih menghadapi persoalan.
“Pembangunan tentu kami dukung, tapi harus berdasarkan kebutuhan masyarakat. Jangan sampai pembangunan selesai secara fisik, namun manfaatnya belum maksimal dirasakan publik,” tambahnya.
Warga berharap Pemerintah Kabupaten Luwu Timur lebih terbuka menjelaskan tujuan, kajian, serta manfaat pembangunan tersebut kepada masyarakat.
“Setiap anggaran yang digunakan harus benar-benar memberikan nilai manfaat bagi masyarakat. Karena yang dibutuhkan warga adalah jalan yang aman dan nyaman,” tegasnya.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari Pemerintah Kabupaten Luwu Timur maupun pihak terkait mengenai tujuan, kajian, serta pertimbangan pembangunan jalan lingkar Ussu tersebut. Redaksi membuka ruang klarifikasi dan hak jawab bagi pihak terkait sesuai prinsip jurnalistik yang berimbang.(*)











