Luwu Timur kitaindonesia.com — Keluhan warga terhadap lorong pertama di Desa Bayondo, Kecamatan Tomoni, yang dibangun sejak tahun 1967 masih belum mendapatkan tanggapan resmi dari pihak berwenang hingga Rabu (8/4/2026).
Postingan di grup Facebook “INFO KEJADIAN LUWU TIMUR” oleh Hasman Ladu’u yang beredar sejak dua hari lalu terus menuai komentar dari warga. Banyak yang menyayangkan kondisi lorong tanah yang sempit dan berliku itu belum tersentuh perbaikan, sementara lorong-lorong baru di sekitar desa sudah diaspal.
“Sampai penduduk yang ada di lorong ini sudah banyak yang pindah ke lorong lain. Yang anehnya lagi malah banyak lorong yang dibikin baru sudah diaspal sekarang. Ada apa ini pak pimpinan?” tulis Hasman Ladu’u dalam postingannya.
Desa Bayondo sendiri telah “mekar” menjadi beberapa desa turunan, antara lain Bangun Karya, Tadulako, dan Beringin Jaya. Namun lorong bersejarah yang menjadi “urat nadi” awal pemukiman tersebut justru dibiarkan tanpa perbaikan signifikan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Kepala Desa Bayondo maupun perangkat desa. Begitu pula dari anggota DPRD Kabupaten Luwu Timur, baik dari Komisi Infrastruktur maupun anggota dewan yang membidangi wilayah Tomoni.
Warga berharap keluhan ini segera ditindaklanjuti melalui mekanisme resmi, seperti Musrenbangdes atau usulan ke Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Luwu Timur.
Bupati Luwu Timur Irwan Bachri Syam sebelumnya dikenal sering turun langsung menindaklanjuti keluhan infrastruktur warga di berbagai kecamatan. Namun untuk kasus lorong spesifik di Bayondo ini, belum ada pernyataan dari Pemkab maupun DPRD.
Lorong ini menjadi simbol ketimpangan pembangunan pedesaan: di satu sisi desa terus berkembang dan memekarkan diri, di sisi lain infrastruktur dasar warisan sejarah justru terabaikan.
Masyarakat Desa Bayondo berharap pihak kepala desa dan DPRD segera memberikan klarifikasi serta menyusun rencana perbaikan agar warga yang tersisa tidak semakin banyak yang pindah.(*)














