Luwu Timur kitaindonesia.com — Gerak cepat ditunjukkan Pembina Batara Guru Rescue Dan Respon Indonesia (BGR-RI) Luwu Timur, Abdul Rauf Dewang, bersama tim terpadu dari Dinas Sosial, BPBD, Damkar, serta Pemerintah Desa Baruga (RT dan Dusun), dengan melakukan assessment langsung di lokasi terdampak banjir di Desa Baruga, Kecamatan Malili, Minggu (12/04/2026).
Dari hasil peninjauan lapangan, tim menemukan bahwa banjir yang terjadi tidak semata disebabkan oleh faktor alam, melainkan kombinasi berbagai persoalan yang telah lama terjadi dan tidak tertangani secara serius.

Beberapa faktor utama penyebab banjir diantaranya adalah pasang air laut yang terjadi bersamaan dengan meningkatnya debit air sungai, sehingga memperparah luapan air ke pemukiman warga.

Selain itu, kondisi sungai yang mengalami pendangkalan membuat kapasitas tampung air semakin berkurang. Drainase di sejumlah titik juga ditemukan tersumbat oleh sampah dan material lainnya, sehingga aliran air tidak berjalan normal.
Faktor lain yang tak kalah krusial adalah pembukaan lahan yang tidak terkendali, baik untuk perkebunan maupun perumahan, yang berdampak pada berkurangnya daya serap air. Bahkan, tim menemukan adanya pemukiman yang berdiri di sepanjang sempadan sungai, termasuk bangunan yang berada tepat di atas aliran air.
“Ini bukan sekadar bencana alam, tetapi akumulasi persoalan yang dibiarkan berlarut-larut tanpa penanganan serius,” tegas Abdul Rauf Dewang di lokasi.
Sebagai langkah penanganan, tim merekomendasikan sejumlah solusi strategis yang harus segera direalisasikan, diantaranya normalisasi dan pengerukan Sungai Malili secara menyeluruh dan berkelanjutan, pembersihan serta perbaikan jaringan drainase, hingga pembangunan kolam retensi atau embung untuk menahan debit air.
Selain itu, diperlukan rehabilitasi daerah resapan air melalui penanaman kembali area yang terdampak pembukaan lahan, serta penertiban alih fungsi lahan yang tidak sesuai tata ruang.
Pembangunan tanggul di wilayah rawan, penataan sediment pond sesuai kaidah AMDAL, serta pemasangan sistem peringatan dini banjir (early warning system) juga menjadi bagian penting dari solusi yang diusulkan.
Tidak kalah penting, edukasi kepada masyarakat terkait pengelolaan sampah harus terus digencarkan, disertai audit lingkungan secara menyeluruh agar penanganan tidak lagi bersifat parsial.
Namun demikian, harapan besar disampaikan agar hasil assessment ini tidak kembali berakhir sebagai laporan di atas meja.
Pasalnya, berdasarkan keterangan warga, kegiatan serupa telah berulang kali dilakukan, namun implementasi di lapangan kerap tidak berjalan maksimal sehingga banjir terus terjadi.
“Masyarakat butuh tindakan nyata, bukan sekadar kunjungan dan dokumentasi,” ungkap salah satu warga.
Diperlukan komitmen dan kolaborasi nyata dari seluruh stakeholder agar persoalan ini dapat dituntaskan hingga ke akar-akarnya.Jika tidak, maka banjir di wilayah tersebut hanya tinggal menunggu waktu untuk kembali terulang.(*)














