Luwu Timur kitaindonesia.com — Warga di sekitar Sungai Malili, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, mengeluhkan perubahan kualitas air yang diduga terkait aktivitas pertambangan PT Citra Lampia Mandiri (PT CLM).
Perubahan tersebut terjadi pada 6 April 2026, ketika air sungai yang biasanya jernih tampak keruh, terutama setelah hujan deras, dan dikhawatirkan berdampak pada aktivitas sehari-hari warga.
Keluhan tersebut juga ramai di media sosial. Sejumlah netizen mengunggah video kondisi sungai dan menyebut, “ini bukan lagi air, ini sudah lumpur,” sambil memperlihatkan air yang tampak cokelat pekat.
Dampak langsung dirasakan nelayan dan petani tambak. Warga mengatakan hasil tangkapan menurun, sementara produksi tambak dan budidaya rumput laut terganggu.
Hisbulah, nelayan tradisional dari kampung nelayan, menyayangkan kondisi itu karena setiap musim hujan air sungai kembali keruh kecokelatan dan membuatnya sulit melaut. “Kami sebagai nelayan tradisional tidak dapat turun mencari nafkah,” ungkapnya sore tadi, 7 April 2026, di pinggir Sungai Malili.
Masyarakat dan pemerhati lingkungan mendesak pemerintah bertindak tegas serta melakukan investigasi menyeluruh. Mereka menilai perlu pemeriksaan terhadap pengelolaan limbah tambang, sedimentasi, dan dampak terhadap ekosistem sungai. Warga juga menuntut penegakan hukum terhadap perusahaan yang dinilai tidak patuh aturan.
Hingga berita ini diturunkan, PT CLM belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan tersebut. Sementara itu, dinas terkait di Kabupaten Luwu Timur diharapkan segera menguji kualitas air dan menyampaikan hasilnya secara terbuka kepada publik.
Masyarakat berharap ada tindakan cepat agar pencemaran dapat dihentikan dan Sungai Malili kembali aman digunakan.(*)














