Luwu Timur, kitaindonesia. Com, — Gemerlap perayaan Hari Jadi Kabupaten Luwu Timur telah berakhir. Panggung hiburan yang megah, konser, dan turnamen domino berhadiah Rp130 juta berhasil menyita perhatian masyarakat. Ribuan warga menikmati pesta rakyat yang dinilai sebagai salah satu perayaan paling meriah dalam sejarah daerah ini.
Di balik kemeriahan tersebut, muncul pertanyaan yang mulai bergema di tengah masyarakat, apakah pesta telah selesai, tetapi pekerjaan rumah pemerintah masih tertinggal?
Sejumlah isu yang sempat tenggelam kini kembali menjadi pembicaraan. Mulai dari perkembangan penyelidikan pengadaan ambulans yang menggunakan dana CSR PT Vale, penanganan dugaan kasus pengadaan seragam sekolah, persoalan Gerbang Burau, Islamic Center Malili, Gerbang Malili, hingga berbagai persoalan lingkungan yang selama ini menjadi perhatian publik.
Tidak hanya itu, masyarakat juga mulai mempertanyakan nasib bantuan sosial yang dinilai belum terselesaikan. Kelompok lanjut usia (lansia) disebut telah menunggu pencairan bantuan selama berbulan-bulan. Sudah 6 bulan. Di sisi lain, banyak guru mengaji juga berharap kejelasan mengenai pembayaran insentif yang sampai sekarang masih ada belum menerima. Sementara itu, bantuan bagi pelaku UMKM yang sebelumnya menjadi harapan pelaku UMKM hingga kini masih dinanti realisasinya.
Persoalan-persoalan tersebut kini kembali menjadi topik pembicaraan setelah euforia pesta berakhir. Masyarakat berharap pemerintah memberikan penjelasan yang terbuka mengenai progres penyelesaiannya, termasuk jika memang terdapat kendala administratif, anggaran, atau faktor lain yang menyebabkan keterlambatan. Jangan hanya janji.
Pemerintah memang patut diapresiasi atas keberhasilannya menghadirkan hiburan bagi masyarakat. Namun, ukuran keberhasilan sebuah pemerintahan tidak hanya ditentukan oleh ramainya panggung hiburan, melainkan juga oleh kemampuannya memenuhi hak-hak masyarakat, menyelesaikan program yang telah dijanjikan, serta memastikan pelayanan publik berjalan dengan baik.
Pesta boleh selesai, tetapi harapan rakyat tidak boleh ikut padam. Kini publik menunggu langkah nyata, bukan sekadar seremoni. Sebab, yang paling diingat masyarakat bukanlah seberapa megah panggung yang dibangun, melainkan seberapa besar keberpihakan pemerintah terhadap kebutuhan rakyatnya.(*)







