LUWU, kitaindonesia.Com,— Kekecewaan petani sawit kembali memuncak setelah PTPN IV Regional 2 unit PKS Luwu kembali menolak penerimaan buah plasma milik petani sawit. Persoalan yang disebut terus berulang ini dinilai semakin merugikan warga yang menggantungkan hidup dari hasil panen sawit.
Pihak perusahaan disebut kembali menyampaikan alasan penuhnya tangki timbun CPO dan tingginya restan TBS sebagai penyebab penghentian sementara penerimaan buah. Namun bagi petani sawit, alasan tersebut dianggap tidak lagi dapat diterima karena persoalan serupa kerap terjadi tanpa solusi nyata.
Akibat penolakan itu, banyak petani sawit mengaku khawatir buah yang telah dipanen akan mengalami penurunan kualitas bahkan membusuk sebelum sempat diolah. Padahal proses panen membutuhkan biaya operasional yang tidak sedikit, mulai dari tenaga kerja hingga biaya angkut.
“Setiap ada kendala di pabrik, petani sawit yang selalu menanggung kerugian. Buah kami ditolak, sementara kebutuhan hidup terus berjalan,” ujar salah satu warga dengan nada kecewa.
Petani sawit menilai persoalan tersebut mencerminkan lemahnya kesiapan perusahaan dalam mengantisipasi produksi sawit yang berlangsung setiap hari. Menurut mereka, perusahaan seharusnya memiliki langkah antisipasi agar hasil panen warga tetap terserap dan tidak merugikan petani plasma.
Kondisi ini juga memicu keresahan di tengah warga. Harapan agar perusahaan negara mampu menjadi penopang ekonomi masyarakat sekitar justru dinilai berbanding terbalik dengan kenyataan yang dihadapi petani sawit di lapangan.
Petani sawit berharap persoalan ini mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah dan DPRD Luwu. Mereka meminta adanya intervensi nyata untuk melindungi petani sawit agar tidak terus menjadi pihak yang dirugikan setiap kali terjadi persoalan operasional di pabrik.
Menurut warga, pemerintah dan DPRD tidak boleh tinggal diam karena persoalan ini menyangkut keberlangsungan ekonomi masyarakat kecil. Mereka mendesak adanya langkah pengawasan, mediasi, hingga solusi konkret agar hasil panen petani sawit tetap terserap dan tidak membusuk di lapangan.
“Jangan sampai petani sawit terus menjadi korban. Pemerintah dan DPRD harus hadir melindungi masyarakat,” ungkap salah satu petani sawit.
Situasi tersebut sekaligus memunculkan pertanyaan di kalangan masyarakat mengenai sejauh mana keberadaan perusahaan benar-benar memberikan kesejahteraan bagi warga sekitar, apabila setiap gangguan operasional justru membuat petani sawit kembali menjadi pihak yang paling terdampak.(*)












