Kecelakaan Maut Kembali Terjadi di Area Tambang PT CLM, Satu Sopir DT Dilaporkan Tewas

 

Luwu Timur, kitaindonesia.Com – Kecelakaan kerja kembali terjadi di area operasional tambang PT Citra Lampia Mandiri (CLM), tepatnya di jalur hauling KM 18, Sabtu (30/5/2026). Insiden tersebut mengakibatkan seorang sopir dump truck (DT) bernama Dullah meninggal dunia di lokasi kejadian.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari lapangan, unit yang dikemudikan korban merupakan kendaraan pengangkut ore menuju stockpile yang dioperasikan oleh PT Kalla, salah satu perusahaan kontraktor di lingkungan PT CLM. Kendaraan tersebut dilaporkan mengalami kecelakaan tunggal hingga terbalik saat menjalankan aktivitas pengangkutan.

Korban disebut mengalami cedera fatal akibat terjepit pada bagian kepala. Sejumlah pekerja yang berada di sekitar lokasi sempat memberikan pertolongan, namun nyawa korban tidak dapat diselamatkan dan dinyatakan meninggal dunia di lokasi kejadian.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak PT CLM maupun perusahaan kontraktor terkait mengenai kronologis kejadian, penyebab kecelakaan, maupun hasil pemeriksaan awal atas insiden tersebut.

Peristiwa ini kembali menjadi perhatian publik karena bukan kali pertama kecelakaan fatal terjadi di area operasional PT CLM. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah insiden yang menelan korban jiwa tercatat terjadi di kawasan tambang tersebut.

Pada 10 Oktober 2024, seorang pekerja subkontraktor dilaporkan meninggal dunia akibat longsor di area tambang. Selanjutnya pada 27 April 2026, seorang sopir dump truck bernama Arisman (45) meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan di jalur hauling KM 18. Kini, pada 30 Mei 2026, kecelakaan kembali terjadi di lokasi yang sama dan menewaskan Dullah saat menjalankan aktivitas operasional.

Berulangnya kecelakaan yang menelan korban jiwa tersebut memicu keprihatinan masyarakat dan dinilai memerlukan perhatian serius dari pemerintah, khususnya instansi yang memiliki kewenangan dalam pengawasan sektor pertambangan dan ketenagakerjaan. Masyarakat menilai rangkaian insiden fatal yang terus berulang tidak dapat dianggap sebagai kejadian biasa dan harus menjadi momentum untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan kerja di lingkungan perusahaan.

Di tengah duka yang kembali menyelimuti keluarga korban, sebagian masyarakat mulai mempertanyakan apakah target produksi lebih diutamakan dibanding keselamatan para pekerja. Masyarakat berharap pengawasan tidak hanya sebatas pemeriksaan setelah insiden terjadi, lalu aktivitas perusahaan kembali berjalan normal beberapa hari kemudian. Mereka mendorong adanya investigasi yang transparan dan menyeluruh, evaluasi terhadap kinerja departemen safety serta penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), termasuk peninjauan terhadap sistem operasional dan pengawasan di lapangan.

Masyarakat berharap pembenahan dilakukan secara menyeluruh sehingga keselamatan pekerja benar-benar menjadi prioritas utama. Harapan tersebut muncul agar setiap pekerja yang menjalankan aktivitas di kawasan pertambangan mendapatkan perlindungan yang maksimal dan kejadian serupa tidak kembali terulang di masa mendatang.

Sampai saat ini, belum ada informasi resmi dari pihak perusahaan maupun instansi terkait mengenai penyebab pasti kecelakaan yang terjadi pada Sabtu.(*)

banner 400x130

Pos terkait

banner 400x130