JAKARTA KITA INDONESIA.COM, – Anjloknya harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit di berbagai daerah menjadi perhatian serius DPP APKASINDO (Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia). Menyikapi kondisi tersebut, Ketua Umum DPP APKASINDO, Dr. Gulat ME Manurung, mengumpulkan seluruh pengurus wilayah (DPW) se-Indonesia dalam rapat virtual guna menghimpun laporan perkembangan harga TBS dari masing-masing daerah.
Langkah cepat ini dilakukan sebagai bagian dari persiapan pertemuan strategis Ketua Umum APKASINDO dengan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polkam) RI serta Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) RI untuk menyampaikan kondisi nyata yang dihadapi jutaan petani sawit akibat penurunan harga yang dinilai sangat drastis.
Dalam rapat virtual yang diikuti 22 DPW APKASINDO, Dr. Gulat menegaskan bahwa seluruh laporan dari daerah akan menjadi bahan penting untuk disampaikan kepada pemerintah pusat sebagai masukan terkait situasi petani sawit nasional.
“Minggu ini saya membutuhkan laporan lengkap dari seluruh Ketua DPW se-Indonesia mengenai perkembangan harga TBS. Ini akan menjadi dasar penyampaian kondisi lapangan kepada pemerintah agar ada langkah cepat menyelamatkan petani sawit,” tegas Gulat.
Ia juga menyampaikan bahwa persoalan ini telah menjadi perhatian Dewan Pembina DPP APKASINDO. Organisasi diminta bergerak cepat agar jutaan petani sawit tidak semakin terpuruk akibat kebijakan maupun ketidakpastian pasar yang berdampak pada harga pembelian TBS.
Dari berbagai wilayah, laporan yang masuk menunjukkan kondisi cukup memprihatinkan. Di Kalimantan Timur, petani mulai mengeluhkan pembatasan pembelian oleh pabrik sawit dan harga yang terus tertekan. Sementara di Sulawesi Barat, harga TBS petani swadaya dilaporkan anjlok hingga kisaran Rp800 per kilogram, bahkan sejumlah perusahaan disebut tidak lagi mengacu pada penetapan harga dari dinas perkebunan provinsi.
Di Provinsi Jambi, penurunan harga juga terjadi cukup tajam. Petani swadaya dilaporkan mengalami penurunan harga hingga ratusan rupiah per kilogram, meski harga CPO domestik masih dinilai relatif stabil.
APKASINDO menilai kondisi ini harus segera mendapat perhatian serius dari pemerintah, khususnya kementerian teknis, agar dilakukan langkah mitigasi terhadap dampak kebijakan dan kepastian tata niaga sawit nasional.
Menurut Gulat, penurunan harga TBS di tingkat petani tidak sebanding dengan fluktuasi harga CPO yang terjadi di pasar. Secara hitungan umum, setiap penurunan harga CPO Rp1.000 per kilogram seharusnya hanya berdampak sekitar Rp300 per kilogram terhadap harga TBS. Namun faktanya, harga TBS petani swadaya saat ini turun jauh lebih besar, bahkan mencapai Rp800 hingga Rp1.200 per kilogram.
Situasi tersebut dinilai berpotensi melemahkan semangat produksi petani, bahkan sebagian mulai enggan melakukan panen karena harga dianggap tidak lagi menutupi biaya operasional.
Melalui pertemuan dengan pemerintah pusat, APKASINDO berharap ada langkah konkret yang dapat menstabilkan harga sawit, menjaga kepastian pasar, serta melindungi keberlangsungan ekonomi jutaan petani sawit di seluruh Indonesia.(*)












